Followers

30 November, 2011

Sebuah Puisi : Pohon Daun Iman

Bulan November yang semakin meninggalkan. Aku yang ketinggalan. Tertinggal dalam segala hal yang ternyata semakin sukar untuk dikejar dan didapatkan. Rasa tidak kesampaian untuk meninggalkan bulan ini tanpa sebarang coretan, walhal warkah belum tentu menggembirakan. Ini adalah bulan yang di dalamnya ada masa yang tidak mungkin bisa dikembalikan. Hatta dengan teknologi yang mampan dan pemikiran yang futuristik. Mencoret satu coretan adalah dirasakan memadai daripada membiarkan pemuka ini kosong dan statik. Mudah-mudahan ada mutiara yang bisa digali dan disinarkan kembali oleh jauhari. Hayati dan selami sajak ini.... Wassalam.

POHON DAUN IMAN

Pada dataran tandus amal
Pohon manusia berdiri condong
Dahannya sudah berkerak dan mengelupas

Akarnya bercerucuk ke bumi
Menjalar di celah kerikil maksiat dan batu dosa
Seutuh usia si pohon

Bayu nikmat berpuput lembut
Menyapa dan membelai
Maka ia julurkan rantingnya
Dongak ke langit
Katanya, "Aku akan hidup seribu tahun lagi"
Dan lagi katanya, "Tuhan itu amat sayangkan aku"

Dahulunya pohon itu ada daun iman
Menutup setiap cabang rantingnya
Meneduhkan tapaknya
Mendendangkan lagu riang si pohon
Bertunas hijau dan merimbun malar segar

Kini ia kuning sekuningnya
Berkeping dan mengeras
Satu persatu gugur ke tanah
Menutup banir akarnya

Daun iman daun pengasih
Bajanya cinta pada Pencinta
Dek akar yang tewas
Justeru hilang segarnya

Daun iman daun jiwa
Nyawa kepada yang mati
Gugurnya malapetaka
Sedang pohon manusia
Condongnya makin nyata

Dan pastikan lewat
Kalau sedarnya di hujung dunia
Tatkala tanah menyambut jatuhnya.

salah ke aku cakap? My opinion la.. hehe